Senin, 21 Juli 2008 | 14:49 WIB
Salam
KOLOM : Tarakan 30 Tahun Kemudian
(Oleh: Hj Marissa Haque Fawzi SH Mhum/Kandidat Doktor)
--------------------KOLOM : Tarakan 30 Tahun Kemudian
(Oleh: Hj Marissa Haque Fawzi SH Mhum/Kandidat Doktor)
Ke depan, mari kita semua bersama-sama melihat bagaimana akhir dari ‘sinetron’ Pilkada Kalimantan Timur. Kita semua berharap agar berjalan damai dan tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya, sejak awal saat saya menemani salah satu pasangan kandidat mendaftarkan diri pada hari pertama pendaftaran, saya sempat mengacungkan tangan dan bertanya kepada Ketua Pokja KPUD Pilkada Kalimanatan Timur. “Kenapa kok Ketua KPUD tidak ada, padahal ini adalah hari pertama pendaftaran?”
Ketua Pokja KPUD Pilkada Kaltim yang kebetulan seorang perempuan spontan menjawab bahwa hal itu tidak perlu dan cukup diwakilkan saja, sudah sah. Hati saya seketika itu berkata, masalahnya bukan soal sah atau tidak sahnya.
Bicara etika dan fatsoen Pilkada, alangkah lebih terhormatnya apabila seorang Ketua KPUD sebagai sahibut bait (yang punya hajat/cara) hadir menyambut para tamu resmi peserta Pilkada. Ah… sudahlah, itu bagian dari nmasa lalu.
Terpenting, doa saya dari lubuk hati yang paling dalam saat melakukan lawatan ke Balikpapan, Kalimantan Timur, agar tangan Allah benar-benar turun dan membimbing seluruh masyarakat di Kaltim dengan memberikan pemimpin terbaik yang diridhoi-Nya. Kedua, saya berharap KPUD Kaltim tidak perlu memperpanjang daftar ‘dosa’ dengan melakukan kesalahan tidak penting hanya untuk kepentingan sesaat (vested interest) maupun kelompoknya.
Ketiga, tidak ada lagi permainan dagang sapi hukum dengan membolak-balik UU sebagai hierarchi tertinggi dan berlaku umum -- UU 32/2004-- telah disepakati dan dipakai sejak diawal Pilkada Kaltim. Menurut pandangan saya, tidak diperlukan Pilkada putaran kedua yang disebut-sebut menghabiskan dana sebesar Rp 96 miliar. Dana sebesar itu lebih baik dialokasikan untuk mebiayai anak yatim, kaum miskin, dan pembangunan gedung sekolah, termasuk biaya rekonservasi lingkungan hidup yang dirusak dengan sengaja oleh oknum birokrat jangka pendek dari kelompok tertentu. (*)
Komentar atas sebagian kutipan:
Ass Wr Wb. Itulah biaya yang harus dibayar untuk sebuah konsistensi dan pembelajaran membuat keputusan. Kita harus akan banyak mengorbankan kepentingan kita dan masyarakat pada umumnya karena energi kita habis karena ketidakmampuan para pemimpin dan politisi kita mengambil keputusan strategis jangka panjang. Sampai kapan para pemimpin dan politisi kita akan sering melakukan kesalahan dan berapa banyak lagi energi yang harus kita habiskan untuk banyak hal yang seharusnya tidak perlu. Semoga Allah SWT. memberikan segala kemudahan dan ketabahan untuk penderitaan yang hampir tidak kelihatan di mana ujungnya. Salam dari Denpasar.
Posted by: Toto W. Juniarto | Senin, 21 Juli 2008 | 17:01 WIB
--------------
Salam kenal Pak Toto. Saya jebtulan sedang kuliah di Jerman. Selama ini saya dan teman-teman asal Indonesia yang ada di LN, selalu mencermati perkembangan berita tentang negara kita. Saya sangat prihatin sekali dan sedih. Kenapa sedih? kok enggak ada ya pemimpin kita ini yang visioner. Orientasinya ehmm apa ya terlalu dangkal. Ya itu tadi seperti yang disampaikan Bu Marissa... sempit sekali. Mestinya, prioritas pertama dalam membangun negeri ini adalah bagaimana mencerdaskan anak-anak bangsa. Kalau perlu semua putra-putra terbaik bangsa ini di sekolahkan ke LN, sedangkan yang di dalam negeri digembleng habis-habisan. Sehingga dalam wakltu 10-15 tahun, kita akan memanen hasilnya. akan lahir para intelektual bangsa yang memiliki moralitas dan kecerdasan. Setelah itu kita tinggal copy paste saja. Nah, kalau sekarang saya melihat negeri ini benar-benar semu. Mobil mewah, rumah mewah bertaburan dimana-mana, tapi mental dan intelektual bangsa ini kosong... Bagaimana nasib generasi penerus nanti, kalau semuanya terjebak kepada wilayah hedonisme dan lain-lain.
--------------
Salam kenal Pak Toto. Saya jebtulan sedang kuliah di Jerman. Selama ini saya dan teman-teman asal Indonesia yang ada di LN, selalu mencermati perkembangan berita tentang negara kita. Saya sangat prihatin sekali dan sedih. Kenapa sedih? kok enggak ada ya pemimpin kita ini yang visioner. Orientasinya ehmm apa ya terlalu dangkal. Ya itu tadi seperti yang disampaikan Bu Marissa... sempit sekali. Mestinya, prioritas pertama dalam membangun negeri ini adalah bagaimana mencerdaskan anak-anak bangsa. Kalau perlu semua putra-putra terbaik bangsa ini di sekolahkan ke LN, sedangkan yang di dalam negeri digembleng habis-habisan. Sehingga dalam wakltu 10-15 tahun, kita akan memanen hasilnya. akan lahir para intelektual bangsa yang memiliki moralitas dan kecerdasan. Setelah itu kita tinggal copy paste saja. Nah, kalau sekarang saya melihat negeri ini benar-benar semu. Mobil mewah, rumah mewah bertaburan dimana-mana, tapi mental dan intelektual bangsa ini kosong... Bagaimana nasib generasi penerus nanti, kalau semuanya terjebak kepada wilayah hedonisme dan lain-lain.
Posted by: Rudiatna (Jerman) | Senin, 21 Juli 2008 | 18:33 WIB
-----------------
Saya kira apa yang disampaikan Pak Toto, Bu Marissa dan Pak Rudiatna ada benarnya. Cuman, bagaimana caranya melakukan penyadaran kepada para pemimpin. Ini yang sulit, untuk diimplementasikan. Kasihan rakyat, setiap hari dijejali bereita-berita menyangkut kebobrokan mental pejabat kita. Tuh lihat ulah manusia di lembaga legislatif dan yudikatif serta eksekutif. Saya kira sudah saatnya koruptor itu dihukum mati. Mengapa? Kasihan KPK yang capek=-capek bekerja membabat para koruptor, sementara hakim tipikor hanya memberikan hukuman ringan, dibawah lima tahun. Buat apa kalau demikian?
-----------------
Saya kira apa yang disampaikan Pak Toto, Bu Marissa dan Pak Rudiatna ada benarnya. Cuman, bagaimana caranya melakukan penyadaran kepada para pemimpin. Ini yang sulit, untuk diimplementasikan. Kasihan rakyat, setiap hari dijejali bereita-berita menyangkut kebobrokan mental pejabat kita. Tuh lihat ulah manusia di lembaga legislatif dan yudikatif serta eksekutif. Saya kira sudah saatnya koruptor itu dihukum mati. Mengapa? Kasihan KPK yang capek=-capek bekerja membabat para koruptor, sementara hakim tipikor hanya memberikan hukuman ringan, dibawah lima tahun. Buat apa kalau demikian?
Posted by: Budiman S | Senin, 21 Juli 2008 | 18:37 WIB